Thursday, January 14, 2010

INTERPRETASI HASIL PENGUKURAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN



interpretasi hasil pengukuran
dalam evaluasi pendidikan


Interpretasi hasil pengukuran mencakup beberapa hal, yaitu :
·         Skor dan nilai
·         Skala penilaian
·         Pendekatan penilaian
Hal pertama yang harus dijelaskan terlebih dahulu adalah skor dan nilai. Hal ini didasarkan pada pertimbangnan bahwa orang sering menganggap bahwa skor itu mempunyai pengertian yang sama dengan nilai

Perbedaan antara skor dan nilai
Skor
Skor adalah hasil perekerjaan memberikan angka yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan benar, dengan memperhitungkan bobot jawaban benarnya.[1]
Misalkan tes hasil belajar dalam bidang studi bahasa inggris menyajikan lima butir soal tes uraian di mana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan benar diberikan bobot 10. Siswa bernama Fathimah, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:
·         Untuk butir soal no. 1 dapat dijawab dengan sempurna, skor 10
·         Untuk butir soal no. 2 dapat dijawab setengah sempurna, skor 5
·         Untuk butir soal no. 3 hanya seperempat bagian yang benar, skor 2,5
·         Untuk butir soal no. 4 dapat dijawab setengah sempurna, skor 5
·         Untuk butir soal no. 5 dapat dijawab hampir sempurna, skor 7,5
Dengan demikian untuk kelima butir soal tes uraian tersebut, siswa bernama Fatimah tersebut mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 +2,5 + 5 + 7,5 = 30. Angka 30 di sini belum dapat disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah, yang untuk dapat disebut nilai masih memerlukan pengolahan atau pengubahan (konversi)
Nilai
Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka / huruf, yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya nilai sering disebut skor standar.
Nilai, pada dasarnya adalah angka atau huruf yang melambangkan seberapa jauh atau seberapa besar kemampuan yang telah ditunjukkan oleh testee terhadap materi atau bahan yang diteskan, sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan. Nilai, pada dasarnya juga melambangkan penghargaan yang diberikan oleh tester kepada testee atas jawaban benar. Contoh nilai ialah nilai akhir yang dilambangkan dengan angka atau huruf, pernyataan lulus atau tidaknya siswa, dan sebagainya

skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan bisa dalam bentuk huruf, angka, kategori seperti; tinggi, sedang, baik, kurang, dsb.
Macam-mcacam skala penilaian
Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala penilaian seperti:[2]
  • Skala 5 / huruf (A-B-C-D-E)
  • Skala 9 (1-9)
  • Skala 10 (1-10)
  • Skala 11 (0-10)
  • Skala 100 (1-100), dsb.

Sebagai catatan perlu dikemukakan di sini, bahwa dalam dunia pendidikan formal di Indonesia, nilai standar yang dipergunakan pada lembaga pendidikan tngkat dasar dan tingkat menengah adalah nilai standar berskala sebelas (stanel), sedangkan pada lembaga pendidikan tinggi, pada umumnya digunakan nilai standar bersala lima (stanfive) atau nilai huruf.[3]

pendekatan dalam penilaian
Untuk dapat melakukan evaluasi harus dilakukan lebih dulu pengukuran dengan alat tes dan nontes. Hasil pengukuran dapat menggambarkan derajat kualitas, kuantitas, dan eksistensi keadaan yang diukur. Namun demikian hasil pengukuran ini belum memiliki makna bila belum dibandingkan dengan suatu acuan atau bahan pembanding.
Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Pada acuan ini sebelum penilaian itu dilaksanakan harus ditetapkan lebih dulu patokan yang akan dipakai sebagai pembanding terhadap semua hasil pengukuran. Patokan di sini merupakan suatu patokan yang ditetapkan sebelumnya sebagai batas lulus atau dengan kata lain tingkat penguasaan minimum. Patokan di sini bersifat tetap dan dapat juga dipakai untuk kelompok lain atau subyek didik yang manapun. PAP didasarkan pada asumi bahwa :[4]
1.      Hal- hal yang harus dipelajari oleh testee mempunyai struktur hierarkis tertentu, dan bahwa masing-masing taraf harus dikuasai secara baik sebelum maju ke taraf selanjutnya
2.      Evaluator atau tester dapat mengidentifikasi masing-masing taraf itu setidaknya mendekati tuntas

Apabila dalam penentuan nilai hasil tes belajar itu digunakan acuan kriterium (PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang akan diberikan kepada testee harus didasarkan kepada standar mutlak artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan cara membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki masing-masing testee dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee. itulah sebabnya penentuan nilai dengan mengacu kepada patokan sering disebut sebagai penentuan nilai secara mutlak, secara ideal, atau secara teoritik. Contoh patokan yang digunakan :

Tingkat penguasaan
Nilai akhir
bobot
Interpretasi
80-100%
70-80%
60-70%
50-60%
Kurang dari 50%
A
B
C
D
E
4
3
2
1
0
Memuaskan
Baik
Cukup
Kurang
Gagal

Misalnya seorang guru merencanakan tes hasil belajar yang terdiri dari lima butir soal tes uraian. Bobot maksimun masing-masing butir soal adalah 10. Siswa bernama Fathimah, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:
·         Untuk butir soal no. 1 dapat dijawab dengan sempurna, skor 10
·         Untuk butir soal no. 2 dapat dijawab setengah sempurna, skor 5
·         Untuk butir soal no. 3 hanya seperempat bagian yang benar, skor 2,5
·         Untuk butir soal no. 4 dapat dijawab setengah sempurna, skor 5
·         Untuk butir soal no. 5 dapat dijawab hampir sempurna, skor 7,5
Dengan demikian untuk kelima butir soal tes uraian tersebut, siswa bernama Fatimah tersebut mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 +2,5 + 5 + 7,5 = 30. Maka nilai fatimah adalah :
 = ( 30 / 50 ) x 100 % = 60
Maka dengan menggunakan patokan diatas, fatimah mendapatkan nilai C.
Karena hasil tes menggunakan PAP, maka testeer akan dapat segera mengetahui tingkat penguasaan siswa. Inilah kebaikan atau keuggulan yang dimiliki PAP. PAP sangat baik dterapkan pada tes formatif, untuk mengetahui sejauh mana peserta didik “telah terbentuk”, sehingga tseter dapat memberikan umpan balilk agar tujuan pengajaran dapat tercapai secara optimal.
Namun PAP seyogianya jangan digunakan dalam penentuan nilai sumatif seperti pada ulangan umum dalam mengisi nilai rapot, sebab dalam penerapannya tidak mempertimbangkannya kemampuan kelompok sehingga sering dikatakan “terlalu kejam” dan “kurang manusiawi”.Kelemahan lainnya, PAP sebaiknya terapkan pada tes hasil belajar, dimana tes tersebut sudah bersifat standart secara keleseluruhan, mulai dari standar.
Penilaian Acuan Norma
Pendidik yang menggunakan acuan kelompok sebagai dasar penilaian, didasarkan atas[5]
1.      Asumsi psikologi, yakni pandangan yang menyadari bahwa tidak semua orang itu memiliki kesamaan kemampuan, individu itu memiliki kemampuan yang beragam. Namun apabila keragaman ini ditarik dari penelitian atas sejumlah sampel akan memberikan gambaran yang membentuk distribusi norma.
2.      Bahwa tujuan evaluasi adalah untuk menentukan posisi relatif dari testee

Penilaian dengan acuan ini dapat digunakan apabila pendidik menghadapi kurikulum yang bersifat dinamis, artinya materi pelajaran yang dikembangkan selalu berubah sesuai dengan tuntutan lingkungan dan tuntutan zaman, sehingga pendidik agak sulit menetapkan kriteria benar dan salah secara kaku.
Dengan demikian pengukuran hasil belajar ini dapat memberi informasi bagaimana kemampuan masing – masing peserta didik dibandingkan dengan kemampuan kelompoknya.
Oleh karena kriteria penilaian dalam PAK ini adalah kemampuan rata – rata kelompok, kemudian individu di ukur sebarapa jauh penyimpangannya terhadap rata – rata tersebut.
Langkah konversi
Adapun langkah yang ditempuh untuk mengolah skor mentah menjadi nilai adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan skor pada setiap peserta didik.
  2. Mencari nilai rata – rata kelompok.
Ada tiga rumus yang dapat digunakan untuk mencari besarnya mean, yaitu:



Keterangan :
M = Besarnya rata-rata yang dicari
X = Jumlah nilai
N = Jumlah peserta tes ( sampel )
fX = Nilai dikalikan dengan frekuensi
MT = Mean terkaan (titik tengah interval yang mengandung MT / M’)
 = Frekuensi yang dikalikan besarnya deviasi
i = lebar interval

  1. Mencari besar kecilnya simpangan baku.
Untuk menghitung besar-kecilnya SD dicari melalui dua rumus :
a)      Rumus kasar
 
b)      Rumus mencari SD dengan mean terkaan :


  1. Membuat pedoman konversi berdasarkan skala yang dikehendaki.
Setelah diketahui besarnya mean dan SD langkah berikutnya adalah membuat konversi nilai. Untuk menyusun pedoman ini ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.      Menetapkan skala yang akan digunakan, dan
2.      Menghitung dan menetapkan tabel konversi nilai untuk menentukan besar-kecilnya nilai yang diperoleh peserta didik

 


                                                           
                                                                                                        
                                                                                                                       
                                                             0                                                    SD
Untuk skala lima, menggunakan rumus:  
M + 1,5 SD = A
M + 0,5 SD  (sampai dengan)  M + 1,5 = B
M - 0,5 SD  (sampai dengan)  M + 0,5 = C
M - 0,5 SD  (sampai dengan)  M - 1,5 = D
M – 1,5 SD > E

Untuk skala sebelas menggunakan rumus :[6]
M + 2,25 SD < 10
M + 1,75 SD < 9 > M + 2,25 SD
M + 1,25 SD < 8 > M + 1,75 SD
M + 0,75 SD < 7 > M + 1,25 SD
M + 0,25 SD < 6 > M + 0,75 SD
M - 0,25 SD < 5 > M + 0,25 SD
M - 0,75 SD < 4 > M - 0,25 SD
M - 1,25 SD < 3 > M - 0,75 SD
M - 1,75 SD < 2 > M - 1,25 SD
M - 2,25 SD < 1 > M – 1,75 SD
M – 2,25 SD > 0
  1. Menentukan nilai masing – masing peserta didik berdasarkan pedoman konversi tersebut.
Contoh soal
Misalnya; dalam ujian bidang studi matematika yang diikuti oleh 80 orang siswa, di mana skor maksimum ideal dari ujian tersebut adalah 120, Udin memperoleh skor 52, data selengkapnya adalah sebagai berikut:
Skor-skor mentah hasil ujian bidang studi matematika


Nomor urut siswa
Skor mentah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
40
64
31
55
40
36
52
43
38
24
69
40
35
72
36
50
15
52
29
39
Nomor urut siswa
Skor mentah
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
35
45
51
46
41
32
47
40
33
56
60
49
49
28
41
37
59
41
42
43
Nomor urut siswa
Skor mentah
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
Nomor urut siswa
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
50
25
45
20
42
36
46
44
44
53
48
34
57
46
37
31
38
42
32
44
Skor mentah

30
41
35
62
43
37
42
48
47
39
54
45
26
58
30
51
47
48
49
53



Maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
Tabel distribusi frekuensi skor mentah hasil ujian bidang studi matematika yang diikuti oleh 80 siswa
skor
Frekuensi
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
1
1
3
5
9
15
18
13
8
4
2
1

N=80

Perhitungan-perhitungan untuk mencari mean dan deviasi standar dari skor mentah:
Skor
f
X
x'
fx'
fx'2
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
1
1
3
5
9
15
18
13
8
4
2
1
72
67
62
57
52
47
M’(42)
37
32
27
22
17
+6
+5
+4
+3
+2
+1
0
-1
-2
-3
-4
-5
+6
+5
+12
+15
+18
+15
0
-13
-16
-12
-8
-5
36
25
48
45
36
15
0
13
32
36
32
25
Total
80=N
-
-



 =  = 42 + 1,0625 = 43,0625
=  = 10,2985

Kemudian skor mentah tersebut, diubah menjadi nilai standar skala lima dengan menggunakan rumus yang telah dikemukakan, sehingga menjadi:
M + 1,5 SD = 43,0625 + (1,5) (10,2985) = 58,51025 < A
M + 0,5 SD  = 48,21175 <  B  > 58,51025
M - 0,5 SD  = 37,91325 <   C  > 48,21175
M - 1,5 SD  = 27,61475 <   D  > 37,91325
            37,91325 >  E

Kemudian dibuat tabel konversinya
Rentang skor
Nilai akhir
bobot
Interpretasi
59 ke atas
49-58
38-48
28-37
Kurang dari 27
A
B
C
D
E
4
3
2
1
0
Memuaskan
Baik
Cukup
Kurang
Gagal

Apabila dibandingkan dengan PAP yang menggunakan rumus yang telah dikemukakan sebelumnya dengan patokan :
Tingkat penguasaan ( % )
Nilai akhir
bobot
Interpretasi
80-100%
66-79%
56-65%
46-55%
Kurang dari 45%
A
B
C
D
E
4
3
2
1
0
Memuaskan
Baik
Cukup
Kurang
Gagal


Maka nilai siswa pada bidang matematika adalah :
Nilai
Konversi skor dengan PAP
Konversi skor dengan PAK atau PAN
A
B
C
D
E
0
0
2
8
70
6
16
34
19
5
Total
80
80

Apabila menggunakan skala 11, perhitungannya menjadi :
M + 2,25 SD  = 66,234125 < 10
M + 1,75 SD = 61,084875 < 9 >  66,234125
M + 1,25 SD = 55,935625 < 8 > 61,084875
M + 0,75 SD = 50,786375 < 7 > 55,935625
M + 0,25 SD = 45,637125 < 6 > 50,786375
M - 0,25 SD  = 40,487875 < 5 > 45,637125
M - 0,75 SD  = 35,338625 < 4 > 40,487875
M - 1,25 SD  = 30,189375 < 3 > 35,338625
M - 1,75 SD  = 25,040125 < 2 > 30,189375
M - 2,25 SD  = 19,890875 < 1 > 25,040125
19,890875 > 0

Kemudian dibuat tabel konversinya
Tingkat penguasaan
Nilai akhir
Interpretasi
66% ke atas
61-65%
10
9
Memuaskan
56-60%
51-55%
8
7
Di atas rata-rata / Baik
46-50%
41-45%
6
5
Rata-rata / Cukup
36-40%
31-35%
4
3
Di bawah rata-rata
/ Kurang
26-30%
21-25%
Kurang dari 20%
2
1
0
Gagal


Maka nilai siswa pada bidang matematika adalah :
Nilai
Konversi skor dengan PAP
Konversi skor dengan PAK atau PAN
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0
0
0
1
4
14
33
21
6
1
0
2
3
5
9
15
18
13
8
4
2
1
Total
80
80

Berdasarkan contoh-contoh soal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
  1. Udin tergolong siswa yang “baik” / “di atas rata-rata” pada kelompoknya. Hal ini mengacu kepada PAK / PAN, di mana dia memperoleh nilai “B” (skala lima), atau “7” (skala sebelas) di kelompoknya
  2. Penguasaan materi kelompok / sekolah tersebut terhadap bidang studi matematika  sangat rendah / kurang, sehingga apabila standart kelulusan adalah C ( skala lima ) atau 5 ( skala sebelas ), dapat dikatakan sebagian besar siswa pada kelompok atau skala tersebut gagal. Dengan demikian data tersebut dapat menjadi umpan balik untuk mengidentifikasi dan memperbaiki sistem pendidikan di sekolah tersebut

Skor baku z dan T
Apabila ingin membandingkan dua sebaran skor yang berbeda standar yang digunakannya, misalnya yang satu menggunakan skala 10 dan yang lain skala 100, sebaiknya dilakukan transformasi atau mengubah skor mentah ke dalam skor baku. Skor baku ini digunakan untuk mengindentifikasi aspek / pelajaran apa yang lebih dikuasai siswa.
Ada dua macam skor baku, yakni skor z dan skor T. Skor z dapat dihitung dengan membagi selisih skor dan nilai rata-ratanya dengan simpangan bakunya.

Contoh:
Misalkan kita akan membandingkan dua skor yang berbeda rentangannya. Skor pertama menggunakan skala 10, skor yang kedua menggunakan skala 100.
Martina memperoleh skor matematika 6,5 dalam skala 10. Rata-rata kelas adalah 6, dan simpangan bakunya 0,8. Sedangkan skor bahasa Inggris sebesar 80 dalam skala 100. Rata-rata kelas adalah 75 dengan simpangan baku 10. Dalam pelajaran manakah Martina lebih unggul?
Untuk menjawqab pertanyaan tersebut kita menggunakan skor z.
Skor z matematika:
Skor z bahasa Inggris:
Dengan membandingkan skor z tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Martina lebih unggul dalam hal matematika dari pada bahasa Inggris.
Kelemahan skor z ialah berhadapan dengan bilangan negatif dan bilangan pecahan sehingga kurang praktis. Untuk itu dapat digunakan skor baku lainnya, yakni skor T. Skor T diperoleh dengan cara mengalikan skor z dengan bilangan 10 (SD=10), kemudian ditambah dengan bilangan 50 (M=50) sehingga diperoleh skor dalam skala 100.[7]


daftar pustaka


o   anas sudijono. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1996

o   Slameto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 1988

o   Thoha, M. Chabib. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1996.

o   Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991

o   Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara. 2005.


[1] Anas sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996, hlm. 309
[2] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi), Jakarta: Bumi Aksara, 2005, hlm. 241-245
[3] Op-cit, hlm. 311
[4] Ibid, hlm. 313-314
[5] Ibid, hlm. 323-324
[6] Ibid, 1996, hlm. 341
[7] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1989, hlm 115.
Lihat juga Anas sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hlm.345-350

No comments:

Post a Comment

Search / Cari

Loading...